“Tamparan” Rahasia Meede

Cetakan pertama novel ini tahun 2007. Sementara saya, baru tahu Rahasia Meede lewat blog seseorang (yang jago sekali dalam me-review banyak novel) akhir tahun 2010. Kemudian, saya baru selesai baca Mei 2011. (jangka waktu baca yang lama bukan permasalahan tebal buku, tapi karena tugas-tugas kuliah yang segunung, he he he)

Saya tipe orang yang picky banget dalam memilih bacaan. Misalnya ada novel tentang seorang gadis yang jatuh cinta dengan drakula, kemudian dengan semangatnya gadis itu ingin menjadi drakula juga. Dengan cerita begini novel tersebut dibaca jutaan orang didunia, tapi klo nggak sreg di hati, saya pasti nggak menengok buku ini meski di rak “best seller” toko buku sekalipun.

Begitu saya mendapatkan Rahasia Meede, dan tersadar bahwa buku ini sudah jarang di pasaran, entah mengapa saya merasa beruntung. Novel ini merupakan thriller sejarah dengan kombinasi fiksi dan fakta (normatifnya). Namun, menurut saya novel ini adalah tamparan di siang bolong bagi siapa saja yang melupakan atau malas atau benar-benar tidak tahu mengenai sejarah nusantara ini. (saya salah satu orang yang kena tampar tersebut)

Berlebihan? Mungkin. Tapi, baca dulu buku ini. Karena setiap bab adalah kejutan. Jadi pembaca akan dibuat bertanya-tanya sejak awal, dan akan jadi “kacau” karena (mungkin) berspekulasi duluan, dan ternyata SALAH menilai.

Ceritanya, ah sudahlah anda bisa googling sendiri. Intinya tentang dua orang anak muda beda idealisme, dan satu orang gadis Belanda dalam mengungkap misteri emas VOC. Setting novel ini melompat-lompat, kita akan dibawa ke masa kolonial, detik-detik kemerdekaan, dan tentus saja, masa sekarang. Dari mulai Den Haag, Boven Digoel, Bangka, terowongan di bawah perut Jakarta, hingga Bugerzaal.
Tokoh-tokohnya? Banyak, ada seorang wartawan cerdas benama Batu, seorang Anarki bernama Kalek, mahasiswi Belanda bernama Cathleen, tiga orang peneliti Belanda, seorang guru sejarah, seorang purnawirawan TNI, seorang perempuan metropolitan hedonis, Profesor penyimpan dendam, redaktur sebuah harian, dan masih banyak lagi.

Novel ini menantang logika. Sedikit kritik adalah mengenai adegan saat api Monas berikut emas-emasnya turun ke dasar monumen tersebut. Hmmm.. sedikit berlebihan dan sulit diterima (akal saya yang malas ini). But, I’ll tell you once again, kejutan-kejutan di buku ini bisa 180 derajat menjungkirbalikkan dugaan-dugaan anda. Bagi yang belum baca? Segera lah mencari novel ini, dan semoga mendapatkannya, karena mulai susah dicari. 

Penulis Rahasia Meede adalah E.S Ito, kita bisa baca tulisan-tulisan dia yang lainnya dengan penuturan yang jujur, menohok, sarkastik, serta sedikit romantis di http://itonesia.com/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Great Career, Excellent Student

They’re good looking, they’re amazing on screen, and of course… they have a brain. inilah aktris dari tiga generasi yang membuktikan untuk sukses di Hollywood, nggak perlu meninggalkan bangku sekolah.

Jodie Foster
Dua Oscar, Satu Gelar Doktor

Jodie sudah mulai akting di beberapa iklan komersial sejak umurnya tiga tahun. Kemudian, meraih nominasi Oscar for Best Supporting Actress di film Taxi Driver saat umur 14 tahun. Anyway, Jodie nggak pernah ngambil acting lesson, dia belajar secara otodidak. Tapi yang bikin salut, She has won two Academy Awards for The Accused (1988) and Silence of the Lambs (1991). Whoaaaa…she was born to be an actress!

Sementara latar belakang pendidikannya, Jodie pernah jadi siswi di Lycée Français (a French-speaking high school in Los Angeles), setelah lulus dari sekolah tersebut, cewek yang ultah setiap 19 November ini menempuh bangku kuliah di Yale University jurusan literature. Nggak tangung-tanggung, Jodie lulus tahun 1985 dengan predikat magna cum laude. Selanjutnya, di tahun 1997, dia menerima gelar Doktor of Fine Arts dari Yale.

Karena kecerdasannya juga, Jodie diberi kehormatan untuk berpidato pada Penn’s 250th Commencement ceremony on May 15th 2006. Para Wisudawan yang hadir saat acara tesebut mengatakan, pidato aktris yang membintangi film Flightplan ini unik dan inspiring banget. Soalnya nih, di akhir pidatonya Jodie mengutip lirik lagu Eminem yang jadi OST 8 Mile : “You only get one shot, do not miss your chance to blow… This opportunity comes once in a lifetime.”

Natalie Portman
From Hollywood to Harvard

Untuk urusan akting kita nggak usah meragukan cewek kelahiran 9 Juni 1981 ini. Buktinya, Natalie sudah mengantongi satu piala Golden Globe for Best Supporting Actress in Closer, dan satu piala Oscar for Best Actress in Black Swan.

Yep! Natalie juga sangat berdedikasi sama pendidikannya. Dia pernah melewatkan premier film yang dibintanginya, Star Wars: Episode I, demi belajar seharian untuk menghadapi ujian akhir saat SMA. Setelah lulus dari public high school at Syosset High Schooland tahun 1999, Natalie diterima sebagai mahasiswa Harvard, dan lulus tahun 2003 with a bachelor’s degree in psychology.

Nggak sampai situ saja, Natalie took graduate courses at the Hebrew University of Jerusalem in the spring of 2004. Then.. pada Maret 2006, Natalie jadi dosen tamu di Columbia University buat ngasih kuliah umum tentang terrorism. Dia nggak takut kalau karirnya bakal anjlok gara-gara sibuk belajar, secara tegas dia bilang “I don’t care if (college) ruins my career, I’d rather be smart than a movie star.” Namun hingga kini, sepertinya Natalie tetap bersinar di jajaran aktris papan atas. Well done!

Dakota Fanning
Ikut Cheerleader Squad

Publik Amerika pernah jatuh hati ketika Dakota bermain di I Am Sam saat umurnya baru 7 tahun. Begitu Dakota menginjak usia remaja, dia mulai mengambil peran yang lebih menantang seperti di film Push, The Twilight Saga : New Moon, dan Eclipse. Bahkan, cewek kelahiran 23 Februari 1994 ini berani beradegan ciuman dengan Kristen Stewart, lawan mainnya di The Runaway.

Walau sibuk syuting sejak kecil, Dakota tetap menomorsatukan sekolahnya. Malah ketika duduk di bangku SMA, cewek berambut pirang ini masih punya waktu untuk ikutan tim cheerleader, lho. Dua kali berturut-turut Dakota pernah dinobatkan sebagai Homecoming Queen, yaitu sebuah tradisi di Amerika untuk siswa yang punya banyak kontribusi di sekolah dan dipilih oleh teman-temannya, wiiihhh…

Nah, kini kabarnya, Dakota akan melanjutkan pendidikannya di New York University pada musim gugur 2011. “I do want to go to college, I want to be able to act and go to college at the same time, I can’t imagine doing anything else.” ujarnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

When Hollywood Finding Franco

James Franco sukses ‘berpetualang’ sebagai pendaki gunung Aron Ralston di 127 Hours. Peran ini membawa James ke nominasi Oscar pertamanya untuk Best Actor. Nggak hanya itu, bersama Anne Hathaway, dia juga jadi host di ajang pernghargaan perfilman paling pretisius tersebut. Sepertinya, nggak ada alasan bagi Hollywood untuk tidak menyukai cowok with the breathtaking smile ini.

Not Picky Actor
Kalau kita lihat list film-film yang dibintangi cowok kelahiran 19 April 1978 ini, kita akan tahu James bukan aktor yang suka pilih-pilih peran. Namanya mulai dikenal saat membintangi serial TV di tahun 1999, Freaks and Geeks. Serial ini bercerita mengenai dua geng unik yang menjalankan masa-masa SMA di tahun 80an. “When we were doing Freaks and Geeks, I didn’t quite understand how movies and TV worked, dan saya banyak improvisasi di setiap adegan,” kenang James mengenai masa-masa awal karirnya di dunia akting.

Akting James mulai dipuji kritikus, ketika berperan di film televisi James Dean tahun 2001. James pun menyabet Golden Globe dan nominasi Emmy Award berkat film ini. Meski gagal mendapatkan peran sebagai Peter Parker di Spider-Man, tapi toh akhirnya cowok yang punya nickname Ted ini masih mendapatkan peran sebagai Harry, sahabatnya Peter Parker.

Then.. ditahun-tahun berikutnya, James mulai sibuk mencoba banyak peran. Seperti jadi militer di Annapolis dan pilot jet di Flyboys, lalu sebagai polisi di film horror The Wicker Man, dan menghibur penonton ketika menjadi kurir ganja di film black comedy, Pineapple Express.

James pun mengaku ingin bermain di segala jenis genre film. “The press are going to come up with an image of you no matter what, so if projects like General Hospital are a way to go out there and shake that up a little bit I don’t see the harm.”,” papar cowok yang juga ikut membintangi Eat Pray Love ini tentang project terbarunya, General Hospital, sebuah American soap opera yang dapat predikat the third longest running drama in television in American history.

A Queer Career
Gara-gara sering berperan sebagai gay (and play so well) di beberapa film, kaya Milk (2008) ataupun Howl (2010). Banyak orang bertanya tentang ‘status’ James Franco. Belum lagi, James pernah jadi cover Candy, the new magazine of transvestism, transexuality, cross dressing, and androgyny. Ataupun jadi sutradara film indie, The Feast of Stephen, yang juga berkisah tentang queer world.

Namun pada sebuah interview, James bilang hal ini salah satu bentuk ekpresinya dalam dunia seni. “Everyone thinks I’m a stoner, and some people think I’m gay because I’ve played these gay roles. That’s what people think, but it’s not true. I don’t smoke pot. I’m not gay…” tegasnya.

Sampai-sampai nih, pacarnya James, aktris Ahna O’Reilly ikutan komentar. “I know that a lot of people wish he were gay, or think I’m not his real girlfriend. But there’s nothing you can do about that.” FYI, O’Reilly dan James udah dating sejak lima tahun yang lalu, mereka bertemu saat O’Reilly belajar akting di Playhouse West, L.A.

Study Hard!!
Walaupun dulu pernah dropped out di tahun pertamanya saat kuliah di University of California (UCLA), Los Angeles, James akhirnya memutuskan back to college di usia 28 tahun. Dia ngambil dua jurusan program ekstensi sekaligus, yaitu literature dan creative writing. Hebatnya, James lulus cuma dalam waktu dua tahun dengan GPA over 3.5.

Belum puas belajar, James pindah ke New York dan nggak tanggung-tanggung langsung ngambil empat jurusan di empat universitas yang berbeda :NYU for film making, Columbia University for fiction writing, Brooklyn College for fiction writing, and poetry program at Warren Wilson College in North Carolina.

Semua program studinya itu udah diselesaikan James dengan baik, dan sekarang dia lagi ngambil program Ph.D. in English di Yale , dan belajar art at the Rhode Island School of Design. Well, bukan nggak mungkin yaa, setelah ini James bisa jadi presiden Amerika. He he he…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Adorable Adele

She have amazing voice. She’s beautiful with her own style. Adele membuktikan untuk sukses sebagai penyanyi, nggak melulu harus tampil serba seksi.

Berkat single Chasing Pavement, Adele Laurie Blue Adkins meraih dua penghargaan sebagai Best New Artist and Best Female Pop Vocal Performance at the 51st Grammy Awards tahun 2009. Di negara asalnya, Inggris, sejak album perdananya, 19 rilis januari 2008 lalu, Adele dapat banyak pujian. Dia disebut-sebut sebagai The Number-One Predicted Breakthrough Act of 2008 in an annual BBC poll of music critics. Sementara The Times Encyclopedia of Modern Music bilang kalau 19 sebagai “Essential Blue Eyed Soul Recording”.

Big Is Beautiful

Cewek yang lahir tanggal 5 Mei 1988 ini nggak pernah mempermasalahkan berat badannya. Adele malah mengaku gemar makan pizza dan malaysian food. “People are starting to go on about my weight but I’m not going to change my size because they don’t like the way I look,” ujarnya santai.

Adele juga berharap nih, agar publik lebih memperhatikan karyanya, bukan penampilannya. Dia nggak peduli kalau orang-orang mulai memberi saran kepadanya untuk berdiet. “I’ve always been a size 14 to 16, I don’t care about clothes, aku suka berpenampilan cantik, tapi bukan dengan jadi kurus, I make music to be a musician not to be on the cover of Playboy,” tuturnya.

Well, mungkin sikap seperti inilah yang bikin seorang Anna Wintour, Chief Editor Vogue Magazine mau jadi stylistnya Adele, supaya dia tampil glam di Grammy Awards 2009. “Anna Wintour wanted to meet me, so I was waiting in the hallway. It was just like The Devil Wears Prada. It was amazing. Aku surprise banget, dan dia menyambutku dengan baik,” tutur Adele.

Nggak sampai situ saja lhooo kejutannya, soalnya nih Adele membuat para fashion lover tambah iri karena difoto oleh fotografer ngetop, Annie Leibovitz dan hasil fotonya dimuat oleh Vogue edisi April 2009. Adele benar-benar nggak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dan bilang “I got a really nice dress. I don’t ever wear dresses. I wear dresses with tights and flat shoes and a cardigan. It’s going to be quite a big deal.”

Good Music Taste
Jauh sebelum menang Grammy, Adele memang sudah punya cita-cita jadi singer-songwritter. Influence bermusiknya pun beragam. Waktu umurnya 13 tahun, Adele sering banget dengerin Celine Dion dan Spice Girls. Kemudian, di umur 14 tahun, Adele mulai menggemari musik jazz. Ella Fitzgerald and Etta James pun menjadi idolanya. Uniknya nih, semakin Adele beranjak dewasa, selera musiknya pun semakin old school. “I kind of got into the old legends, Roberta Flack, Johnny Cash, Diana Ross and the Supremes,” kata cewek yang lulus dari sekolah performing arts, BRIT School, Croydon, pada Mei 2006 ini.

Anyway, Adele ggak pernah lupa masa-masa awal karir bermusiknya. Setelah ia lulus SMA, pada Desember 2006, seorang kawan bernama Jack Peñate mengajak Adele untuk manggung di London’s Earls Court, dimana tempat ini hanya berkapasitas untuk 100 orang. Namun, begitu Adele mulai bernyanyi, beberapa penonton terlihat terharu dan menitikan air mata. “That was the time I was like, ‘Oh, my God, this is amazing, can’t live without it.’ Nggak ada yang lebih seru selain tampil live,” kenangnya.

No wonder sejak saat itu, Adele menyukai keintiman dan interaksi dengan penonton saat perform di pangung-panggung kecil . “I like to hear people, their glasses tinkling and all that. I’d hate to play to people I can’t even see and can’t even hear. That’d be horrible,” katanya jujur.

The New Album
Seolah ingin terus membuktikan talentanya, Adele merilis album kedunya, 21 pada Februari 2011. Nggak tanggung-tanggung nih, di album 21, Adele berkolaborasi dengan beberapa produser yang sudah mencetak hits besar untuk artis-artis terkenal, seperti Paul Epworth (Kate Nash, Cee Lo Green), Ryan Tedder (Beyoncé, Kelly Clarkson), Dan Wilson (Dixie Chicks), serta Fraser T. Smith (Taio Cruz).

Di minggu pertama setelah rilis, 21 berhasil menduduki peringkat teratas tangga lagu Billboard di Amrik. Hingga kini, album tersebut pun sudah terjual sebanyak 352.000 copy. Sementara di Inggris, single Rolling In The Deep berada di peringkat atas beberapa tangga lagu populer selama enam minggu terakhir.
And you can also listen second single on 21, Someone Like You, you’ll hear the tears on her voice. AMAZING!! …Overall, Adele gives as good as she gets!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Nothing But The Truth : “Seberapa teguh anda memegang sebuah idealisme?”

Bercerita mengenai Rachel Armstrong (Kate Beckinsale), seorang jurnalis ambisius yang bekerja di The Capital Sun-Times. Rachel, suatu ketika menemukan sebuah fakta bahwa Erica Van Doren (Vera Farmiga), istri dari mantan duta besar Amerika Serikat, Oscar Van Doren (Jamey Sheridan), adalah seorang agen rahasia CIA yang baru saja kembali dari Venezuela untuk menyelidiki usaha percobaan pembunuhan Presiden Amerika Serikat.

nothing-but-the-truth-2008

Rachel dan editornya tentu sudah bisa menebak, berita yang menggemparkan seluruh penjuru Amerika Serikat ini akan mendapatkan tentangan setidaknya dari pihak pemerintahan sendiri. Namun, tentu saja Rachel tidak menyangka bahwa kasus ini akan melibatkan pihak FBI, yang menurunkan agen khususnya, Patton Dubois (Matt Dillon), untuk menyelidiki kasus ini.
Kemudian, Rachel dianggap telah mengancam keamanan negara dengan membongkar identitas seorang agen rahasia dan diminta untuk mengungkapkan identitas narasumber yang memberitahukan informasi tersebut kepada Rachel.
Demi menjaga keselamatan dan keamanan, setiap narasumber berhak untuk meminta kepada seorang jurnalis, untuk tidak menyiarkan identitasnya. Dan seorang jurnalis pun patut menjunjung kode etik ini. Karena jika tidak dipatuhi, media tersebut akan kehilangan kepercayaan bahkan kredibilitas oleh narasumbernya.
Hal inilah yang coba dipertahankan oleh Rachel. Ia tetap bertahan dengan pendiriannya. Hasilnya, Rachel harus dipenjara selama ia belum mau buka mulut. Keputusan yang akhirnya mengubah kehidupan Rachel dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Lewat Beckinsale, karakter Rachel Armstrong menjadi sebuah karakter yang dapat dipercaya keberadaannya oleh para penontonnya: karakter yang kuat, tegar namun rapuh dan memiliki banyak kekurangan dalam dirinya. Mungkin, dari awal, penonotn akan dibuat menebak-nebak siapa gerangan ‘si narasumber’ tersebut. Jawabannya tentu saja ada di akhir film, dan begitu film berakhir, saya kira penonton pun akan setuju dengan sikap Rachel mempertahankan sebuah prinsip (kode etik jurnalistik)

sebenarnya di Amerika film ini rilis Sepetember 2008, dan di Indonesia seharusnya rilis tahun 2010 kemarin. namun sayang, film sebagus ini tidak mendapatkan jadwal penayangan secara regular di Amerika dan di Indonesia.

smart Qoute from Nothing But The Truth : “A man leaves his family to go to jail to protect a principle, and they name a holiday after him. A man leaves his children to go fight in a war, and they erect a monument to him. A woman does the same thing, and she’s a monster.”

2008_nothing_but_the_truth_008

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Syahmedi Dean, Petualangan Wartawan Gaya Hidup

514398730_986d5e7513

Jakarta – Musim panas di Milan, Itali, September 2001. Model-model Eropa berkaki jenjang itu berseliweran di panggung berbentuk lingkaran. Mereka mengenakan kaus rancangan Dolce & Gabbana dengan gambar grafik wajah penyanyi pop terkenal, Madona. Ikut terdengar suara musik berdentum dinamis mengiringi gerak model-model tersebut.

Sementara itu, seorang wartawan gaya hidup asal Indonesia berjubel di antara rekan-rekan seprofesi lainnya dari pelbagai negara. Tubuhnya yang kalah tinggi dengan wartawan Eropa membuatnya sulit mengambil gambar melalui kamera saku. Ia nekat mendesak ke depan, untuk lebih dekat dengan bibir panggung.

Tepat di sebelah wartawan itu, duduk dengan anggun seorang perempuan. Dalam hati si wartawan berkata “siapa gerangan perempuan cantik ini, seperti pernah melihat entah dimana”. Begitu fahion show usai, ia baru tersadar, selama acara berlangsung ia berhimpitan dengan Monica Belucci, aktris yang berperan sebagai Marry Magdalene, di film The Passion of the Christ.

Syahmedi Dean, salah satu dari sedikit penulis fesyen dan gaya hidup terkemuka di Indonesia. Cerita di atas ialah sekilas pengalaman menariknya saat menjadi koordinator reportase spring/summer fashion week untuk Femina Group, tahun 2001-2003.

Menamatkan kuliah S1 jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1995. Karier jurnalistik Dean diawali saat ia terjaring program pertukaran pemuda Indonesia-Australia pada tahun yang sama. Di negeri kangguru itu, ia magang sebagai reporter di harian The Examiner untuk bidang kriminal, dan staf produksi ABC Radio di kota kecil Launceston, Tasmania.

Di Indonesia, dirinya mulai merintis karir di majalah Femina sejak tahun 1996 hingga 1999. Kemudian berturut-turut menjadi redaktur di majalah Cosmopolitan, Harper’s Bazaar, Dewi, sampai akhirnya menjadi pemimpin redaksi majalah pria SOAP, di tahun 2006 hingga 2008.

Dean konsisten memilih bidang gaya hidup selama menjadi wartawan. Ia mengaku berat rasanya jika harus disuruh menulis tentang ekonomi ataupun politik.”Menulis tentang seni, fesyen, serta gaya hidup itu menyenangkan, saya pernah ikut liputan teman-teman wartawan ekonomi, dan saya benar-benar tidak mengerti dunia itu,” papar pria kelahiran 14 Mei 1969 ini.

Ciri wartawan fesyen, menurutnya, ialah argumentatif. Misalnya, mengapa baju-baju Marc Jacob sangat cocok dengan perempuan-perempuan asia, ini harus bisa dijabarkan si wartawan dengan argumennya secara meyakinkan. “Beda dengan wartawan olahraga, dimana sang juara suatu pertandingan sudah pasti, namun kalau di fesyen semua relatif dan serba argumentatif,” jelasnya.

Menulis mengenai pakaian serta aksesoris mahal seperti Prada, Gucci, YSL, Chanel, Bottega Veneta, tidak membuat Dean menjadi konsumtif. Sikap ingin tahu yang menyelamatkannya. Di awal karir, ia sering membaca buku mengenai perkembangan mode. “Saya lahir dari keluarga sederhana, dan tidak punya barang-barang mahal itu, sama seperti wartawan olahraga, tidak perlu jadi wasit untuk menulis dengan baik dan kritis,” terang pria berdarah minang ini.

Tidak puas hanya menjadi wartawan, Ayah dari Ali Altaaf (2) ini melebarkan sayapnya menjadi penulis novel. Empat buah karya telah ia terlurkan, diantaranya : L.S.D.L.F (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fahion), J.P.V.F.K (Jakarta Paris Via French Kiss), P.G.D.P.C (Pengantin Gypsy Dan Penipu Cinta), A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh). Novel-novel ini berkisah mengenai refleksi hidup serta petualangan empat wartawan gaya hidup metropolitan.

Kreatifitasnya juga tertuangkan ketika membuat film semi dokumenter di tahun ini mengenai fashion journalism berjudul Fahion1Hari. Dibantu kawan-kawan satu profesi, lewat film ini dirinya bertindak sebagai sutradara. “Saya ingin menunjukan bagaimana culture dunia majalah beserta orang-orang didalamnya selama satu hari,” jelasnya.

Sikap mudah bosan, membuat pria yang bermimpi tinggal di London ini ingin mencoba berbagai profesi, namun tetap dalam ranah media. Kini, hampir dua bulan ia menjadi creative director di Harian Media Indonesia. Pekerjaannya membawahi divisi layout, fotografer, maupun bagian kreatif lainnya. “Ini tantangan baru, dahulu bagi saya koran itu monoton dan membosankan, saya ingin membuat halaman-halaman koran menjadi lebih menarik,” harapnya seraya tersenyum optimis.(RID)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The First Indonesian Fashion Fiction

Well, siapa bilang cerita jurnalis fashion seru cuma milik The Devil Wears Prada? Buktinya, negeri kita ini punya novel menarik seputar orang-orang di balik glamour-nya sebuah fahion magazine.

Keempat novel ini karya Syahmedi Dean, seorang jurnalis lifestyle yang sudah malang melintang kemana-mana. Dan kabarnya, novel pertamanya pun ada sebelum The Devil Wears Prada booming di kalangan fahion people.

1296745

The Beginning…
L.S.D.L.F (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fahion)

Bercerita mengenai empat tokoh utama :
Alif, laki-laki straight yang selain pintar menulis fahion, juga pintar menyimpan affair dengan seorang staf redaksi di majalah File. Punya penggemar gelap, cerdas dalam bersosialisasi, dan…divorce.
Raisa, basic-nya seorang perempuan yang punya segalanya : cantik, anak orang kaya, punya koleksi Prada lengkap, mendapat posisi editor tanpa perlu susah payah jadi reporter. Tapi sayang, dia cuma jatuh cinta sama Alif.
Didi, hmmm… gay, metroseksual, up-to-date, gaya bicara yang ceplas-ceplos, selalu ngomong ‘Abso-fashion-lutely’ diberbagai kesempatan, terkadang culas, tajam dalam berkomentar jika ada orang kaya tapi jelek saat berpenampilan.
Nisa, tipe-tipe wartawati mandiri dan kritis, jago nulis feature, punya nomor telepon orang-orang penting, sikapnya kaku, terkadang menyebalkan, lajang dan sibuk mencari cowok yang gak terintimidasi sama wanita pintar

Novel perdana ini lebih bercerita mengenai permukaan dunia majalah fahion, dimana keempatnya bergaul dengan orang-orang gila brand, social climber, fahion society, serta orang-orang tulus di tengah sekelompok hedonis.

1296757

The Adventure..
J.P.V.F.K (Jakarta Paris Via French Kiss)
Di sekuel ini, keempatnya lagi berada di puncak karir. Alif sibuk berhimpit-himpitan di antara fahion dunia di show Christian Dior, Chanel, Fendi, Max Mara, Prada, dan Paul Smith. Sementara hatinya masih tertambat di Jakarta.
Sedangkan Raisa, masih terus berharap ada kemungkinan cinta di hati Alif untuknya… eewwww, sebelum akhirnya perjalanan menyusul Alif ke Paris jadi petaka buat karirnya.
Dan Didi (dodol) sibuk mengamati fahion di Paris, London, Milan, sambil sibuk scanning cowok-cowok stylish untuk dijadikan ‘model’ sementara di hatinya. Tak ketinggalan, Nisa yang gesit berlari-lari di jalur underground Metro Paris demi menghindar dari perbuatan dan pikiran kotor dua orang cowok mesum.

pgdpc_-_pengantin_gypsy_dan_penipu_cinta

The Bitter Reality…
P.G.D.P.C (Pengantin Gypsy Dan Penipu Cinta)
Di novel ketiga ini, keempatnya mulai mengalami kejatuhan karir dan hidup tapi dengan cara yang (mungkin) fashionable. Alif dipecat dari File, dan terus merenungkan hidupnya sambil berharap balikan dengan mantan istrinya.
Raisa, mendadak jadi artis sinetron bermake-up menor, sengaja merekrut Alif jadi manajernya hanya untuk lebih semakin dekat sama Alif. (tiba-tiba hidupnya udah kaya sinetron)
Didi, diculik dan dianiaya oleh seorang model cowok yang sakit hati oleh kata-kata pedas Didi. (hmmm gay violence, sedikit klasik, huh? Faktanya novel ini keluar sebelum kasus pembantaian Rian, hahaha saya gak bermaksud menghubung-hubungkan.. cuma sedikit intermezzo)
Sementara Nisa, (lagi-lagi) sibuk menguntit cowok di sebuah toko buku. (hah? cuma segitu) tenang.. di akhir novel ada kejutan buat Nisa. Apa itu? Berhubungan dengan kebodohan dan kesuburan seorang perempuan.

n130603612334_3380

The Smart Way To Come Back…
A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air The)
Life goes on, and they’re moving on. Di novel terakhir, keempatnya bangkit dan bikin majalah baru bernama MAGA.
Alif, menjabat Creative Director. Kerjaannya paling banyak. Masih mempertanyakan masa lalu. Namun, secerdas-cerdasnya Alif, toh ia juga membuat satu kebodohan yang seksi.
Raisa, menduduki posisi Pemimpin Redaksi, dengan cara melobi pengusaha maha kaya, yakni seorang Nyonya pejabat yang nggak ngerti dunia permajalahan. Diam-diam Raisa, punya fans. diam-diam jugase Raisa ingin mengubah penampilan, from the Sexy Smart Women to The ‘Wanita Muslimah’.
Didi, menapaki karirnya menjadi Fahion Editor. Sibuk membuat halaman-halaman Fahion MAGA berkilau dengan taste of fahionnya yang tinggi. Dan dengan caranya sendiri (yang culas nan jujur), Didi memberikan tips seputar fashion kepada pembaca MAGA.
Nisa, selain hamil diluar nikah, ia menjadi Managing Editor yang sibuk main facebook dan twitter. (hah? cuma gitu juga) yaaa nggak dong.. nantinya dia memperlihatkan seorang calon ibu yang semangat senam hamil dan buka rental peminjaman tas-tas branded. Tapi serius, Nisa dan Alif akan memberi kejutan (benar-benar kejutan maksud saya) di akhir novel ini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Best of the best EDFAT ( at least for me :))

frame-31
PANTIA QURBAN – Alvin (15), siswa SMA Putra Bangsa, menjadi salah satu panitia qurban di sekolahnya, Jalan Margonda Raya, gg. Kedondong, RT01/15, Depok, Rabu (17/11). Dalam rangka memperingati Idul Adha, Alvin beserta kawan-kawan dan guru sekolahnya menyembelih empat ekor kambing, dan satu ekor sapi, untuk nantinya daging qurban dibagikan kepada warga sekitar sekolahnya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

EDFAT V : Journalistic Photography (In Practice)

time-1
Time 1

time-2
Time 2

time-3
Time 3

time-4
Time 4

Posted in Uncategorized | Leave a comment

EDFAT IV : Journalistic Photography (In Practice)

angle-1
Angle 1

angle-2
Angle 2

angle-3
Angle 3

Posted in Uncategorized | Leave a comment